Pilihan

Flores, Seekor Ayam dan Lima Butir Mutiara

Jumat, 14 Juli 2017 : 20.07
Penulis bersama salah seorang "mama" di Kampung Nuapaji, Desa Jopu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Laki-laki itu sibuk mencari seseorang. Kedua tangannya memegang seekor ayam yang masih hidup. “Raswan di mana? Raswaaaann,” teriaknya. Sambil memegang seekor ayam, Emanuel ke sana kemari mencari Raswan.

Minggu, 4 September, sore itu, rumah Emanuel di Kampung Nuapaji, Desa Jopu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, mendadak ramai. Dia dan keluarga disibukkan dengan kedatangan sebelas orang tim Jala Mana Nusantara yang sedang menjelajah tanah Flores. Saya salah satu di antara tim tersebut.

Tuan rumah kemudian memberi seekor ayam kepada Raswan, mewakili tim Jala Mana Nusantara, untuk disembelih (tentu dengan diawali doa sesuai agama Islam yang ia anut). Lalu diserahkan kepada mama-mama untuk diolah, dimasak dan dihidangkan untuk jamuan santap malam bersama.

Ketika semua makanan sudah masak, kami berkumpul dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, lalu makan bersama. Tidak lupa, mereka menawarkan Moke, minuman lokal yang terbuat dari pohon Lontar.

Inilah tradisi mereka dalam menyambut tamu. Mayoritas masyarakat Flores beragama Katolik, namun mereka memiliki semangat toleransi yang sangat tinggi. Hal tersebut terlihat saat menerima kami yang datang dari berbagai kota di Indonesia, beragam latarbelakang suku, dan juga berbeda agama.

Flores memang sebuah daerah yang elok untuk belajar banyak hal. Di sinilah saya melihat masyarakat menghormati perbedaan dengan cara sederhana.

Budaya gotong royong, kebersamaan, toleransi dan menghargai orang lain. Hal itu juga terlihat saat satu keluarga akan merenovasi rumah adat, maka masyarakat yang lain datang membantu. Mereka tidak memandang suku maupun agama.

Masyarakat memaknai kehidupan adalah bagian dari membantu dan menghargai sesama. Sikap menghormati sesama, termasuk lawan jenis tidak boleh dicerai-beraikan atas dasar perbedaan apapun.

“Mutiara” inilah yang kemudian ditemukan Soekarno saat dirinya diasingkan Belanda pada 1933, di Ende, Flores, NTT. Di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Soekarno menceritakan pengalamannya ketika menemukan “lima butir mutiara yang indah”.

(klik juga: Rombongan Wisatawan Akan Kunjungi Alor)

Setiap hari Bung Karno mendatangi sebuah pohon sukun untuk sekadar memandanginya selama berjam-jam. Dalam perenungannya sambil menatap pohon sukun itu, Bung Karno mendapat ilham untuk menggali nilai-nilai dan tradisi yang ada di Nusantara.

(klik juga: Expo Alor XI 2017 Digelar Awal Agustus)

Dia pun menemukan “lima butir mutiara” yang kemudian dikenal sebagai Pancasila; yakni kebangsaan, internasionalisme atau perikemanusiaan, demokrasi, keadilan sosial, dan Ketuhanan yang Maha Esa. Bung Karno mengatakan, jika lima hal itu diperas menjadi satu, maka yang muncul adalah perkataan “gotong royong”.

Penulis: Sriyanto AH adalah salah seorang redaktur di Tabloid Fajar Pendidikan yang berdomisili di Kota Makassar

0 komentar:

Berita Terbaru